Minggu, 24 Maret 2013

AKU MAU JADI PRESIDEN

AKU MAU JADI PRESIDEN!!

Pernah suatu hari saya bertemu dengan seorang anak yang masih lugu, umurnya sekitar 11 tahun dan dia sudah tidak bersekolah karena faktor biaya sekolah yang cukup mahal di tempat tinggalnya. Pekerjaan ayahnya hanyalah seorang buruh harian dan ibunya tukang cuci pakaian, mereka tinggal di rumah yang sangat sederhana, menurut saya rumah sangat tidak layak untuk dihuni, apalagi anak ini juga punya 2 orang saudara lainnya yang tinggal serumah di rumah yang sangat kecil.

Keseharian anak ini di habiskan untuk mengamen di jalan untuk menambah uang makan keluarganya, jadi ia tidak sempat untuk menikmati masa kanak-kanaknya seperti anak-anak yang sebaya dengannya. setiap hari dia hanya ikut kedua kakaknya untuk mengamen di perempatan lampu merah, padahal seharusnya ia sudah bisa duduk di bangku sekolah dan belajar seperti halnya anak-anak yang lain, tapi dengan semua keterbatasan materi yang Ia dan keluarganya miliki ia tetap bisa semangat dan terus berusaha bagaimana agar Ia dan keluarganya bisa hidup senang.



Anak ini berhenti bersekolah sejak usia 9 tahun jadi sudah 2 tahun belakangan ia selalu ada di perempatan jalan untuk mengamen bersama kedua orang kakaknya. setiap kali saya lewat di lampu merah tersebut, saya selalu melihat dia dengan semangatnya memetik gitar kecil yang ia miliki dan bernyanyi dengan penuh percaya diri. Walau kadang kala setiap kali bernyanyi ia tidak di beri uang oleh para pengguna jalan, Ia tetap melanjutkan nyanyian nya dengan penuh semangat padahal panas matahari begitu terik.

Hari itu saya pulang dari kampus, seperti biasa anak itu selalu ada setiap hari di perempatan lampu merah di jalan yang sering saya lewati. ketika dia mengamen di depan saya, hati saya berkata alangkah kurang bersyukurnya saya karena saya masih bisa sekolah dan memiliki kehidupan yang berkecukupan sedang anak ini masih kecil, tapi sudah harus berjuang untuk mencari makan buat dirinya dan keluarganya. lampu merah pun berubah ke lampu hijau, saya tidak lupa memberi uang 2.000 rupiah kepada anak ini lalu saya jalankan motor saya menuju ke rumah.

Sore hari, saya pergi membeli sesuatu ke toko langganan saya, dan saya melihat anak itu sedang beristirahat bersama kedua kakaknya di bawah sebuah pohon sambil menikmati sebotol minuman dingin. lalu saya singgah untuk mengobrol dan berkenalan dengan ketiga bersaudara ini dan mereka pun menyambut saya dengan sopan. setelah berkenalan, kemudian saya bertanya siapa namanya, dia tinggal di mana dan apa pekerjaan orang tuanya. ia pun menjawab semua pertanyaan saya dengan kepolosan yang ia miliki. kemudian untuk kesekian kalinya saya bertanya kepada anak itu "apakah yang menjadi cita-citamu ketika kamu besar nanti?" ia menjawab dengan penuh percaya diri "Aku Ingin Jadi Presiden !". hati saya pun tersentuh, ternyata anak yang lugu dan polos tersebut punya cita-cita setinggi itu padahal ia sudah tidak lagi bersekolah. karena hari sudah hampir malam jadi saya segera pulang dan meninggalkan mereka yang juga ingin segera pulang ke rumah nya.

Dengan kejadian ini saya tersadar bahwa ternyata di sekitar kita banyak sekali anak-anak yang mempunyai cita-cita yang tinggi dan keinginan untuk bersekolah, tapi dengan keadaan yang seperti itu mereka harus berjuang untuk hidup walau harus meninggalkan sekolah mereka dan masa kanak-kanak mereka yang seharusnya bahagia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar