AKU MAU JADI PRESIDEN!!
Pernah suatu hari saya bertemu dengan seorang anak yang masih lugu,
umurnya sekitar 11 tahun dan dia sudah tidak bersekolah karena faktor
biaya sekolah yang cukup mahal di tempat tinggalnya. Pekerjaan ayahnya
hanyalah seorang buruh harian dan ibunya tukang cuci pakaian, mereka
tinggal di rumah yang sangat sederhana, menurut saya rumah sangat tidak
layak untuk dihuni, apalagi anak ini juga punya 2 orang saudara lainnya
yang tinggal serumah di rumah yang sangat kecil.
Keseharian anak ini di habiskan untuk mengamen di jalan untuk menambah
uang makan keluarganya, jadi ia tidak sempat untuk menikmati masa
kanak-kanaknya seperti anak-anak yang sebaya dengannya. setiap hari dia
hanya ikut kedua kakaknya untuk mengamen di perempatan lampu merah,
padahal seharusnya ia sudah bisa duduk di bangku sekolah dan belajar
seperti halnya anak-anak yang lain, tapi dengan semua keterbatasan
materi yang Ia dan keluarganya miliki ia tetap bisa semangat dan terus
berusaha bagaimana agar Ia dan keluarganya bisa hidup senang.
Anak ini berhenti bersekolah sejak usia 9 tahun jadi sudah 2 tahun
belakangan ia selalu ada di perempatan jalan untuk mengamen bersama
kedua orang kakaknya. setiap kali saya lewat di lampu merah tersebut,
saya selalu melihat dia dengan semangatnya memetik gitar kecil yang ia
miliki dan bernyanyi dengan penuh percaya diri. Walau kadang kala setiap
kali bernyanyi ia tidak di beri uang oleh para pengguna jalan, Ia tetap
melanjutkan nyanyian nya dengan penuh semangat padahal panas matahari
begitu terik.
Hari itu saya pulang dari kampus, seperti biasa anak itu selalu ada
setiap hari di perempatan lampu merah di jalan yang sering saya lewati.
ketika dia mengamen di depan saya, hati saya berkata alangkah kurang
bersyukurnya saya karena saya masih bisa sekolah dan memiliki kehidupan
yang berkecukupan sedang anak ini masih kecil, tapi sudah harus berjuang
untuk mencari makan buat dirinya dan keluarganya. lampu merah pun
berubah ke lampu hijau, saya tidak lupa memberi uang 2.000 rupiah kepada
anak ini lalu saya jalankan motor saya menuju ke rumah.
Sore hari, saya pergi membeli sesuatu ke toko langganan saya, dan saya
melihat anak itu sedang beristirahat bersama kedua kakaknya di bawah
sebuah pohon sambil menikmati sebotol minuman dingin. lalu saya singgah
untuk mengobrol dan berkenalan dengan ketiga bersaudara ini dan mereka
pun menyambut saya dengan sopan. setelah berkenalan, kemudian saya
bertanya siapa namanya, dia tinggal di mana dan apa pekerjaan orang
tuanya. ia pun menjawab semua pertanyaan saya dengan kepolosan yang ia
miliki. kemudian untuk kesekian kalinya saya bertanya kepada anak itu
"apakah yang menjadi cita-citamu ketika kamu besar nanti?" ia menjawab
dengan penuh percaya diri "Aku Ingin Jadi Presiden !". hati saya
pun tersentuh, ternyata anak yang lugu dan polos tersebut punya
cita-cita setinggi itu padahal ia sudah tidak lagi bersekolah. karena
hari sudah hampir malam jadi saya segera pulang dan meninggalkan mereka
yang juga ingin segera pulang ke rumah nya.
Dengan kejadian ini saya tersadar bahwa ternyata di sekitar kita banyak
sekali anak-anak yang mempunyai cita-cita yang tinggi dan keinginan
untuk bersekolah, tapi dengan keadaan yang seperti itu mereka harus
berjuang untuk hidup walau harus meninggalkan sekolah mereka dan masa
kanak-kanak mereka yang seharusnya bahagia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar